Fish

Senin, 11 April 2011

ONTOLOGI FILSAFAT


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pada mulanya ontologi dan metafisika adalah satu, yaitu dibahas dalam kajian metafisika. Kemudian pada abad ke-17 para filsuf membedakan antara metafisika dan ontolgi pada pemilahan kajian atau objek yang ditelaah. Secara garis besar ontologi dan metafisika mempunyai perbedaan arti secara etimologi yaitu; ontologi berasal dari kata ta onta dan logia. Ta onta berarti segala sesuatu yang ada dan logia berarti ajaran/ilmu pengetahuan, jadi ontologi berarti ajaran mengenai yang ada atau segala  sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika adalah sesuatu yang ada pada sesudah fisika.
Prof. B. Delfgaauw membedakan antar ontologi dan metafisika melihat dari objeknya. Objek yang bisa ditangkap dengan panca indra termasuk masalah ontologi, sedangkan objek yang tidak dapat ditangkap denga panca indra termasuk bidang metasifika.
Ontologi secara ringkas membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas.

Sementara itu penjelasan deskriptif mengenai ontologi dibahas sebagaimana akan diuraikan dimakalah ini dari pengertian ontologi, pendapat tokoh-tokoh filsafat terhadap ontologi, objek formal ontologi, aliran-aliran dalam ontologi, serta metode-metode yang dipakai dalam ontologi.,



A.    Rumusan Masalah
1.     Apakah Arti Ontologi itu?
2.     Bagaimana Pandangan Para filsuf Tentang ontologi itu sendiri?
3.     Apa yang menjadi objek dalam ontologi itu
4.     Apa saja pemikiran atau aliran yang terdapat dalam ontologi?
5.     Metode apa saja yang diterapkan oleh ontologi?

B.    Tujuan
1.     Untuk mengetahui pengertian dari Filsafat ontologi.
2.     Agar dapat membedakan pendapat-pendapat para filsuf tentang deskripsi dari ontologi.
3.     Untuk mengetahui kajian objek suatu ontologi.
4.     Untuk mengetahui aliran-aliran pemikiran ontologi.
5.     Untuk mengetahui metode dari ontologi.






















BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian ontologi.
Ontologi menurut bahasa Ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu On/Ontosada, dan Logosilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.Sedangkan menurut istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate realitybaik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstra..
Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu.
Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.
       Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1.   kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2.   Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.



B.    Ontologi menurut Tokoh-tokoh filsafat

Tokoh yang membuat istilah pertma ontologi adlah cristian wolff (1679-1714). Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani, yaitu ta onta berarti “ yang berada”, dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian ontolgi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang ada.

Berikut adalah pendapat tokoh filsafat mengenai ontologi diantaranya:

1.   Aristoteles mengatakan The first Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.
2.   Noeng Muhajir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan ontology membahas tentang yang ada yang universal dan tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
3.   Lorens Bagus menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
4.   Jujun S. Suriasumatri dalam Pengantar ilmu dalam Perspektif  mengatakan, ontologi membahas apa yang kita ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang ada.
5.   A. Dardiri  dalam bukunya Humaniora, Filsafat dan Logika mengatakan ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang  nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal,abstraksi) dapat dikatakan ada.
6.   Sidi Gazalba dalam bukunya Sistematika Filsafat mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan.
7.   Amsal Bakhtiar dalam bukunya Filsafat Agama I mengatakan, ontologi adalah teori/ilmu tetang wujud, tentang hakikat yang ada.
8.   Menurut Suriasumantri (1985), Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
A. apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,
B. bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan
C. bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
9.   Menurut Soetriono & Hanafie (2007), Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.
10.        Menurut Pandangan The Liang Gie, Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan :
·     Apakah artinya ada, hal ada ?
·     Apakah golongan-golongan dari hal yang ada ?
·     Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada ?
·     Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari  kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ?
11.        Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi Aristoteles, Ontologi Yaitu teori atau studi tentang being / wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).







C.    Objek formal Ontologi

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

D.  Pandangan Pokok-pokok pemikiran Ontologi Dibagi tiga bagian

1.     Keberadaan ontologi dipandang dari segi jumlah
a.    Monoisme, yaitu aliran yang mengatkan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, tuhan atau subtansi lainnya yang tidak dapat diketahui. Tokonya antara lain: thales (625-545 SM), yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu subtansi, yaiut air. Anaximander (610-547 SM)berkeyakina bahwa yang merupak kenyataan terdalam adalah aperion, yiut segala sesuatu yang tanpa batas, tidak dapat ditentukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda yang ada dalam dunia. Anaximenes (585-528 SM), berkeyakina bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam dalamnya adalah udara. Flisuf modern yang termasuk penganut monoisme adalah B. Spinoza, berpendapat bahwa hanya ada satu satu substansi, yaitu tuhan. Dealam hal ini tuhan diidentikkan dengan alam (naturans naturata). Dengan demikian monoisme adalah bagian pemahaman ontologi yang mendeskripsikan bahwa hanya ada satu hakikat sebagai sumber asal ini, tyidak ada yang selian selain satu tersebut.
b.     Dualisme, yaitu aliran yang menganggap adanya dua subtansi yang masin-masing berdiri sendiri. Aliran ini menganggap bahwa hakikat asal usul sesutau itu terdiri adri dua subtansi, bukan satu subtansi yang dijelaskan oleh aliran monoisme. Tokoh-tokoh yang termasuk aliran ini adalah plato (428-348 SM), yang membedakan dua dunia, yaitu dunia indra (dunia bayang-bayang) dan dunia ide (dunia yang terbuka bagi rasio manusia). Rene descartes (1596-1650 M), yang membedakan substansi pikiran dan substansi keluasan. Leibniz (1646-1716), yang membedakan antara dunia yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Immanuel Kant (1724-1804), yang membedakan antar dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (noumena).
c.      Pluralisme, Adalah paham yang menganggap bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan dan semuanya nyata.Menyatakan  bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh masa Yunani kuno aliran ini adalah Anaxagoras dan Ampedocles.Dan tokoh modern adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai psykolog dan filosof Amerika.

2.     Keberadaan ontologi dipandang dari segi sifatnya
a.      Materialisme, adalah pandangan yang menyatakan bhwa tidak ada sesuatu yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan dari materi yang adapat dikembalikan pada unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu yang nampak, dapat diraba, berbenruk, dan menempati ruang. Hal-hal yang bersifta kerohanian seperti jiwa, keyakinan, rasa sedih, dan rasa senang tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan. Tokoh aliran ini adalah demokritos (460-370 SM), berkeyakinan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan. Atom ini mempunyai sifat yang sama, perbedaannya hanya tentang besar, bentuk, dan letaknya. Jiwa pun menurut demokritos dikatakan terjadi dari atom-atom, hanya saja atom-atom jiwa itu berbentuk kecil, bulat, dan bergerak.Thomas Hobbes (1588-1679), berpendapat bahwa segala  sesuatu yang terjadi di dunia merupakan gerak dari materi. Termasuk juga pikiran, perasaan adalah gerak materi belaka karena segala sesuatu yang terjadi dari bernda-benda kecil.
b.     Spiritualisme
Spiritualisme mengandung beberapa arti, yaitu:
1)     Ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh ( pneuma, nous, reason, logos), yakni roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Spiritualisme dalam arti ini dilawankan dengan materialisme.
2)     Kadang-kadang dikenakan pada pandangan idealistis yang menyatakan adanya roh mutlak. Dunia indra dalam pengertian ini dipandang sebagai dunia ide.
3)     Dipakai dalam istilah keagamaan untuk menekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama.
4)     Kepercayaan bahwa roh orang mati berkomunikasi dengan yang Masih hidup melalui perantara atau orang tertentu dan lewat bentuk wujud yang lain. Istilah spiritualisme lebih tepat dikenakan kepercayaan semacam ini.
Aliran spiritualisme juga disebut idealisme (serba cita). Tokoh aliran ini antaranya Plato dengan ajrannya tentang Idea (cita) dan jiwa. Idea atau cita adalah gambaran asli segala benda. Semua yang ada dalam dunia hanyalah penjelmaan atau bayangan saja. Idea atau cita tidak  dapat ditangkap dengan indra (dicerap), tetapi dapat dipikirkan, sedangkan yang ditangkap oleh indra manusia hanyalah bayang-bayang.
3.     Keberadaan ontologi dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan
a.      Mekanisme, adalah aliran yang menyatakan bhwa semua gejala dapat dijelaskan berdasrkan asas-asas mekanik ( mesin). Semua peristiwa adalah hasil dari materi yang bergerak dan dapat dijelaskan menurut kaidahnya. Aliran ini juga menerangkan semua peristiwa berdasar pada sebab kerja, yang dilawankan dengan sebab-tujuan. Alam dianggap seperti sebuah mesin yang keseluruhan fungsinya ditentukan secara otomatis oleh bagian-bagiannya. Pandangan yang bercorak mekanistik dalam kosmologi pertama kali diajukan oleh Leucippus dan Democritos yang berpendirian bahwa alam dapat diterangkan berdasarkan pada atom-atom yang bergerak dalam ruang kosong. Pandangan ini dianut oleh Galileo Galilei (1564-1641) dan filsuf lainnya abad ke-17 sebagai filsafat mekanik. Rene Descartes menganggap bahwa hakikat materi adalah keluasan (extension), dan semua gejla fisik dapat diterangkan dengan kaidah mekanik. Bagi Immauel kant, kepastian dari suatu kejadian sesuai dengan kaidah sebab-akibat (cousality) sebagai suatu kaidah alam.
b.     Teleologi (serba-tujuan), adalah aliran yang berpendapat bahwa yang berlaku daalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab-akibat, akan tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan  yang mengarahkan alam ke suatu tujuan. menurut Aristoteles, untuk melihat kenyataan yang ysesungguhnya kita harus memahami empat sebab, yaitu sebab bahan (material cause), sebab bentuk (formal cause), sebab kerja (efficient couse), dan sebab tujuan (final couse).sebab bahan adalah bahan yang menjadikan sesuatu itu ada; sebab bentuk adalah yang menjadikan sesuatu itu berbentuk; sebab kerja adalah yang menyebabkan bentuk itu bekerja atas bahan; sebab tujuan adalah yang menyebabkan semata-mata karena perubahan tempat atau gerak
c.      Vitalisme, adalah aliran yang memandang bahwa kehidupan  tidak sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup. Filsuf vitalisme seperti Henry Bergson (1859-1941) menyebutkan elan vital. Dikatakannya bahwa elan vital meruapakan sumber dari sebab kerja dan perkembangan dalam alam. Asas hidup ini memimpin dan mengatur gejala hidup dan menyesuaikannya dengan tujuan hidup. Oleh karena itu, vitalisme sering juga disebit finalisme.
4.     Aliran Lain yang berkaitan antara ontologi dan Metafisika
a.      Nihilisme, Berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada.Adalah sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.Istilah ini diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya Fathers and Childern yang ditulis pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin ini sudah ada semenjak zaman Yunani  kuno pada pandangan Georgias (483-360 SM).
b.     Agnostisesme, Adalah paham yang mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda.Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani.Kata agnosticismeberasal dari bahasa Grik Agnotos yang berarti unknown.A artinya not, Gno artinya know.Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan muthlak yang bersifat transcendent.Tokoh aliran ini seperti, Soren Kierkegaar (1813-1855 M) Bapak Filsafat Eksistensialisme, Heidegger, Sartre, dan Jaspers.



















E.     Metode Dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh :          Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana                       (Tt-P)
                        Badan itu sesuatu yang lahiri                         (S-Tt)
                        Jadi, badan itu fana’                                       (S-P)
Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:
Contoh :          Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaur                  (Tt-S)
                        Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan            (Tt-P)
                        Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan                   (S-P)
Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.
Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.




BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
v Ontologi menurut bahasa Ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu On/Ontosada, dan Logosilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate realitybaik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstra.
v Tokoh yang membuat istilah pertma ontologi adlah cristian wolff (1679-1714). Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani, yaitu ta onta berarti “ yang berada”, dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian ontolgi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang ada.
v Berikut adalah pendapat tokoh filsafat mengenai ontologi diantaranya:Aristoteles mengatakan The first Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.Noeng Muhajir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan ontology membahas tentang yang ada yang universal dan tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.Lorens Bagus menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
v Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.
v Pokok-pokok pemikiran Ontologi: Monoisme, yaitu aliran yang mengatkan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Dualisme, yaitu aliran yang menganggap adanya dua subtansi yang masin-masing berdiri sendiri.Materialisme, adalah pandangan yang menyatakan bhwa tidak ada sesuatu yang nyata kecuali materi.Aliran spiritualisme juga disebut idealisme (serba cita). Tokoh aliran ini antaranya Plato dengan ajrannya tentang Idea (cita) dan jiwa. Mekanisme, adalah aliran yang menyatakan bhwa semua gejala dapat dijelaskan berdasrkan asas-asas mekanik ( mesin).Teleologi (serba-tujuan), adalah aliran yang berpendapat bahwa yang berlaku daalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab-akibat, akan tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan  yang mengarahkan alam ke suatu tujuan.Vitalisme, adalah aliran yang memandang bahwa kehidupan  tidak sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup.
v Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu :abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek
v Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh :          Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana                       (Tt-P)
                        Badan itu sesuatu yang lahiri                         (S-Tt)
                        Jadi, badan itu fana’                                       (S-P)



B.    Saran










DAFTAR PUSTAKA

Ø Surajito, Drs. 2005. Pengantar ilmu filsafat.jakarta: Sinar Grafika Offset.
Ø Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996.
Ø Louis O. Kattsouff, Pengantar filsafat, Tiara Wacana, Yogjakarta
Ø Suhartono, Suparlan. 2000. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Ar-Ruzz




0 komentar:

Poskan Komentar